You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Petak
Logo Desa Petak
Petak

Kec. Gianyar, Kab. Gianyar, Provinsi Bali

PELAYANAN KANTOR DESA PETAK BUKA SETIAP HARI SENIN - KAMIS PUKUL 08.00 - 15.00 WITA, HARI JUMAT PUKUL 08.00 - 13.00 WITA, PELAYANAN TUTUP PADA HARI SABTU - MINGGU DAN HARI LIBUR NASIONAL SERTA CUTI BERSAMA

Kegiatan Pelatihan Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa dalam menghadapi perubahan Iklim melalui Aksi Mitigasi dan Adaptasi Berbasis Desa

Administrator 25 Mei 2026 Dibaca 5 Kali

Senin, 25 Mei 2026
Ruang Rapat kantor Desa Petak

Pemerintah Desa Petak melaksanakan kegiatan pelatihan Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa dalam Menghadapi Perubahan Iklim melalui Aksi Mitigasi dan Adaptasi Berbasis Desa. Kegiatan ini dihadiri oleh Perbekel Desa Petak, BPD Desa Petak, Ketua TP. PKK Desa Petak, Penata Layanan Operasional Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, PPL Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Perangkat Desa, Staf Desa, Pekaseh Subak, dan hadir pula Narasumber dari Koordinator TPP Provinsi Bali dan Yayasan Kedai Masyarakat.

Kegiatan dimulai dengan sambutan Perbekel Desa Petak sekaligus membuka acara, yang selanjutnya dimulai dari pemaparan narasumber pertama yaitu dari Bapak Koordinator TPP Provinsi Bali. Beliau membahas mengenai pentingnya peran desa dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui pembangunan berkelanjutan berbasis ekonomi hijau. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan masyarakat karena menyebabkan kenaikan suhu global, perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan, gagal panen, kebakaran hutan, hingga meningkatnya risiko penyakit. Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 3,5°C pada tahun 2100 apabila tidak dilakukan intervensi, sehingga diperlukan langkah mitigasi dan adaptasi secara terpadu hingga ke tingkat desa. Dijelaskan juga bahwa pemerintah telah memberikan dukungan kebijakan melalui pemanfaatan Dana Desa untuk mendukung program ketahanan iklim dan pencapaian SDGs Desa, khususnya Desa Tanggap Perubahan Iklim. Desa didorong untuk melakukan berbagai aksi nyata seperti pengelolaan limbah rumah tangga, penghijauan dan penanaman pohon, penggunaan energi bersih, pengelolaan sumber daya air, pencegahan bencana, pengembangan pertanian ramah lingkungan, serta penguatan ekonomi hijau berbasis BUMDesa. Selain itu, dipaparkan pula pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, desa, dan masyarakat dalam membangun desa yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui program Desa Berketahanan Iklim.

Dalam sesi akhir narasumber pertama, dijelaskan beberapa contoh penerapan inovasi ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan, seperti pola tanam monokultur, pola pergiliran tanaman, dan sistem tumpang sari untuk menjaga ketersediaan air, meningkatkan produktivitas pertanian, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Secara keseluruhan, materi tersebut menekankan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, serta partisipasi aktif masyarakat agar desa mampu menjadi wilayah yang tangguh, produktif, dan berketahanan terhadap dampak perubahan iklim di masa depan.

Pada sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Narasumber Yayasan Kedai Masyarakat yang membahas pentingnya penguatan peran desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui kebijakan, regulasi, dan pemanfaatan Dana Desa secara berkelanjutan. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat desa, khususnya pada sektor lingkungan, pertanian, perikanan, ekonomi, dan potensi bencana alam. Oleh karena itu, desa perlu membangun sistem yang adaptif melalui langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, seperti pengelolaan lingkungan dan konservasi sumber daya alam, pengembangan teknologi hijau di sektor pertanian dan perikanan, pembangunan sistem irigasi berkelanjutan, penanganan dan mitigasi bencana, pemanfaatan energi ramah lingkungan, serta pengurangan emisi karbon melalui partisipasi masyarakat dan penggunaan teknologi tepat guna. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pembangunan desa ramah lingkungan yang didukung oleh regulasi desa, pengelolaan Dana Desa yang tepat sasaran, serta kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai pihak terkait dalam menciptakan desa yang tangguh terhadap perubahan iklim. Narasumber menegaskan bahwa langkah kecil yang dilakukan masyarakat desa dalam menjaga lingkungan saat ini akan sangat menentukan keberlanjutan kehidupan dan masa depan generasi mendatang.

Selanjutnya dibuka sesi diskusi, yang diawali dengan sedikit penyampaian dari PPL Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar yang selama ini sudah berkolaborasi intensif dengan pekaseh subak untuk membantu menjembatani serta menyampaikan kebutuhan para petani subak di seluruh Desa Petak kepada OPD terkait. Dalam kesempatan ini dijelaskan pula bahwa sebanyak 5 subak sudah mendapatkan bantuan berupa bibit padi yang diberikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, dan 2 subak lainnya telah mendapatkan bantuan bibit serta pupuk sebagai demplot (demonstration plot) lanjutan dari Pemerintah Desa Petak untuk menunjang program pertanian sehat di Desa Petak. Di sela diskusi, Sekretaris Desa mengajukan pertanyaan terkait solusi nyata yang bisa dilakukan oleh masyarakat, khususnya petani—mengingat hampir sebagian besar masyarakat Desa Petak bergelut di sektor pertanian—untuk melawan serta menghadapi perubahan iklim dan serangan hama yang kerap menyebabkan petani gagal panen. Pertanyaan tersebut mendapat jawaban dari narasumber pertama yang menjelaskan bahwa untuk menghadapi perubahan iklim ini, kita semua diharapkan bisa menjaga keseimbangan alam agar dapat menyesuaikan diri, sekaligus mengingatkan bahwa perubahan iklim yang drastis ini juga dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri dan bukan hanya faktor alam. Selanjutnya, narasumber kedua turut menambahkan bahwa untuk menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem ini, kita wajib beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sebab satu-satunya hal yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, solusi konkret yang bisa dilakukan adalah beradaptasi dengan cara menjaga kestabilan alam serta mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis pada tanaman, karena penggunaan bahan kimia berlebih terbukti berdampak buruk pada perubahan iklim akibat menghasilkan emisi gas metana dan karbon dioksida yang berlebihan.

Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa penanganan dampak perubahan iklim di Desa Petak memerlukan komitmen kolektif dan langkah adaptif yang nyata dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani. Melalui optimalisasi kebijakan desa, pemanfaatan Dana Desa yang berkelanjutan, penguatan sinergi program bantuan sektor agraria bersama dinas terkait, serta transisi menuju metode pertanian sehat yang minim bahan kimia, Desa Petak siap bergerak bersama untuk membangun kemandirian pangan sekaligus mewujudkan kawasan desa yang tangguh dan berketahanan iklim demi masa depan generasi mendatang. 

Senin, 25 Mei 2026
Ruang Rapat kantor Desa Petak

Pemerintah Desa Petak melaksanakan kegiatan pelatihan Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa dalam Menghadapi Perubahan Iklim melalui Aksi Mitigasi dan Adaptasi Berbasis Desa. Kegiatan ini dihadiri oleh Perbekel Desa Petak, BPD Desa Petak, Ketua TP. PKK Desa Petak, Penata Layanan Operasional Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, PPL Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Perangkat Desa, Staf Desa, Pekaseh Subak, dan hadir pula Narasumber dari Koordinator TPP Provinsi Bali dan Yayasan Kedai Masyarakat.

Kegiatan dimulai dengan sambutan Perbekel Desa Petak sekaligus membuka acara, yang selanjutnya dimulai dari pemaparan narasumber pertama yaitu dari Bapak Koordinator TPP Provinsi Bali. Beliau membahas mengenai pentingnya peran desa dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui pembangunan berkelanjutan berbasis ekonomi hijau. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan masyarakat karena menyebabkan kenaikan suhu global, perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan, gagal panen, kebakaran hutan, hingga meningkatnya risiko penyakit. Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 3,5°C pada tahun 2100 apabila tidak dilakukan intervensi, sehingga diperlukan langkah mitigasi dan adaptasi secara terpadu hingga ke tingkat desa. Dijelaskan juga bahwa pemerintah telah memberikan dukungan kebijakan melalui pemanfaatan Dana Desa untuk mendukung program ketahanan iklim dan pencapaian SDGs Desa, khususnya Desa Tanggap Perubahan Iklim. Desa didorong untuk melakukan berbagai aksi nyata seperti pengelolaan limbah rumah tangga, penghijauan dan penanaman pohon, penggunaan energi bersih, pengelolaan sumber daya air, pencegahan bencana, pengembangan pertanian ramah lingkungan, serta penguatan ekonomi hijau berbasis BUMDesa. Selain itu, dipaparkan pula pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, desa, dan masyarakat dalam membangun desa yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui program Desa Berketahanan Iklim.

Dalam sesi akhir narasumber pertama, dijelaskan beberapa contoh penerapan inovasi ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan, seperti pola tanam monokultur, pola pergiliran tanaman, dan sistem tumpang sari untuk menjaga ketersediaan air, meningkatkan produktivitas pertanian, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Secara keseluruhan, materi tersebut menekankan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, serta partisipasi aktif masyarakat agar desa mampu menjadi wilayah yang tangguh, produktif, dan berketahanan terhadap dampak perubahan iklim di masa depan.

Pada sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Narasumber Yayasan Kedai Masyarakat yang membahas pentingnya penguatan peran desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui kebijakan, regulasi, dan pemanfaatan Dana Desa secara berkelanjutan. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat desa, khususnya pada sektor lingkungan, pertanian, perikanan, ekonomi, dan potensi bencana alam. Oleh karena itu, desa perlu membangun sistem yang adaptif melalui langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, seperti pengelolaan lingkungan dan konservasi sumber daya alam, pengembangan teknologi hijau di sektor pertanian dan perikanan, pembangunan sistem irigasi berkelanjutan, penanganan dan mitigasi bencana, pemanfaatan energi ramah lingkungan, serta pengurangan emisi karbon melalui partisipasi masyarakat dan penggunaan teknologi tepat guna. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pembangunan desa ramah lingkungan yang didukung oleh regulasi desa, pengelolaan Dana Desa yang tepat sasaran, serta kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai pihak terkait dalam menciptakan desa yang tangguh terhadap perubahan iklim. Narasumber menegaskan bahwa langkah kecil yang dilakukan masyarakat desa dalam menjaga lingkungan saat ini akan sangat menentukan keberlanjutan kehidupan dan masa depan generasi mendatang.

Selanjutnya dibuka sesi diskusi, yang diawali dengan sedikit penyampaian dari PPL Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar yang selama ini sudah berkolaborasi intensif dengan pekaseh subak untuk membantu menjembatani serta menyampaikan kebutuhan para petani subak di seluruh Desa Petak kepada OPD terkait. Dalam kesempatan ini dijelaskan pula bahwa sebanyak 5 subak sudah mendapatkan bantuan berupa bibit padi yang diberikan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, dan 2 subak lainnya telah mendapatkan bantuan bibit serta pupuk sebagai demplot (demonstration plot) lanjutan dari Pemerintah Desa Petak untuk menunjang program pertanian sehat di Desa Petak. Di sela diskusi, Sekretaris Desa mengajukan pertanyaan terkait solusi nyata yang bisa dilakukan oleh masyarakat, khususnya petani—mengingat hampir sebagian besar masyarakat Desa Petak bergelut di sektor pertanian—untuk melawan serta menghadapi perubahan iklim dan serangan hama yang kerap menyebabkan petani gagal panen. Pertanyaan tersebut mendapat jawaban dari narasumber pertama yang menjelaskan bahwa untuk menghadapi perubahan iklim ini, kita semua diharapkan bisa menjaga keseimbangan alam agar dapat menyesuaikan diri, sekaligus mengingatkan bahwa perubahan iklim yang drastis ini juga dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri dan bukan hanya faktor alam. Selanjutnya, narasumber kedua turut menambahkan bahwa untuk menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem ini, kita wajib beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sebab satu-satunya hal yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, solusi konkret yang bisa dilakukan adalah beradaptasi dengan cara menjaga kestabilan alam serta mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis pada tanaman, karena penggunaan bahan kimia berlebih terbukti berdampak buruk pada perubahan iklim akibat menghasilkan emisi gas metana dan karbon dioksida yang berlebihan.

Kesimpulan dari kegiatan ini adalah bahwa penanganan dampak perubahan iklim di Desa Petak memerlukan komitmen kolektif dan langkah adaptif yang nyata dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya para petani. Melalui optimalisasi kebijakan desa, pemanfaatan Dana Desa yang berkelanjutan, penguatan sinergi program bantuan sektor agraria bersama dinas terkait, serta transisi menuju metode pertanian sehat yang minim bahan kimia, Desa Petak siap bergerak bersama untuk membangun kemandirian pangan sekaligus mewujudkan kawasan desa yang tangguh dan berketahanan iklim demi masa depan generasi mendatang. 

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan